Tani (Ngahuma dan Nyawah)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar belakang

Pertanian sebagai mata pencaharian utama dalam kehidupan manusia di beberapa bagian dunia telah mengalami proses perkembangan yang cukup panjang dalam sejarah kebudayaan manusia. Hal itu sejalan dengan tahap perkembangan pengetahuan manusia tentang jenis-jenis tanaman pangan dan cara penanamannya.

Sejak akhir abad ke-19, sistem mata pencaharian itu mulai lenyap. Sementara itu muncul suatu tingkat perkembangan lain dari kegiatan manusia untuk mempertahankan hidupnya, yaitu mata pencaharian bercocok tanam di ladang (tani). Kegiatan ini di Jawa Barat dikenal dengan sebutan ngahuma.

Proses perubahan sistem mata pencaharian berburu dan meramu menjadi sistem mata pencaharian bercocok tanam itu merupakan suatu peristiwa besar dalam proses perkembangan kebudayaan manusia. Para ahli menyebut peristiwa itu sebagai suatu “revolusi” dalam peradaban manusia.

Kapan sesungguhnya terjadi perubahan dalam sistem pertanian? Hal itu masih sulit ditentukan dan hingga kini hal itu masih bersifat spekulatif. Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, Kuntjaraningrat memberikan asumsi tentang asal mula timbulnya sistem mata pencaharian bercocok tanam, bahwa sistem mata pencaharian/pertanian itu terjadi secara berangsur-angsur di berbagai tempat di dunia.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    NGAHUMA

Ngahuma (berladang) adalah suatu sistem/pola pertanian yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan, dengan tujuan menghasilkan kebutuhan pangan yang direncanakan. Proses itu berlangsung secara perputaran (siklus). Dari segi sejarah munculnya sistem/pola pertanian, ngahuma merupakan suatu tahapan dalam evolusi budaya manusia dari budaya berburu dan meramu ke budaya bercocok tanam.

Ngahuma dikenal sejak manusia memahami proses alamiah tumbuhnya tanaman. Masyarakat Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda sebagai masyarakat pedalaman telah mengenal sistem ngahuma sejak beberapa abad yang lampau, paling tidak sejak jaman neolitikum. Oleh karena itu masyarakat Sunda di Jawa Barat semula adalah masyarakat peladang. Sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat, pada satu sisi, dan berkembangnya pengetahuan manusia mengenai bercocok tanam, pada sisi lain, di daerah Jawa Barat, kecuali di Baduy, sistem ngahuma berangsur-angsur ditinggalkan. Sistem ngahuma berubah menjadi sistem pertanian sawah dan/atau tumpang sari.

Berladang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang tidak dipisahkan dari tata ruang kawasan bermukim dan perlu diatur serta direncanakan dengan perhatian terhadap kekuatan alam yang ada. Jadi, dengan sistem pengelolaan tata ruang lokal yang bijaksana, kawasan hutan lebat milik masyarakat adat Sunda akan terpelihara cukup baik dan harmonis dengan kehidupan masyarakat yang bergantung dengan kegiatan ngahuma.

Secara umum, kegiatan berladang dapat dikelompokan menjadi 5 tahap, yang dalam setiap tahapannya selalu disertai dengan upacara selamatan agar usaha pertanian tidak mengalami gangguan atau serangan hama.

Pertama, pembukaan area hutan yang akan digunakan sebagai ladang dengan cara membersihkan semak belukarnya. Dalam masyarakat Sunda pekerjaan ini disebut dengan istilahn yacar. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh lelaki dewasa dengan menggunakan alat antara lain golok dan parang.

Kedua, pemotongan pohon besar dengan menggunakan kapak patik, atau bali ung (sejenis kapak besar). Selanjutnya, dilakukan pembakaran sisa ranting kayu dan area hutan yang sudah ditebang untuk mempercepat proses pembusukan sekaligus mengarahkan zat nutrisi tanah (berupa abu hutan yang sudah dibakar) pada tanaman penghasil pangan yang sudah dipilih, sehingga sempurnanya proses pembakaran menjadi penting untuk menentukan hasil panen kelak. Setelah dibakar, biasanya lahan tidak langsung digarap, tetapi dibiarkan beberapa waktu hingga tanah menjadi dingin.

Ketiga, penanaman benih berupa tanaman biji-bijian dan padi-padian. Di tanah Sunda, pekerjaan ini dikenal dengan istilah ngaseuk, dengan cara melubangi tanah untuk menanam benih dengan aseuk (alat berupa tongkat kayu dengan panjang kira-kira 1.5meter dan ujung yang dibuat agak runcing). Kegiatan ini dilakukan oleh lelaki dan wanita. Tanaman yang ditanam selain jenis biji-bijian dan padi-padian, ditanam pula kacang-kacangan dan jagung. Di Banten bahkan pahuma biasanya menanam pula tanaman keras seperti kelapa dan buah-buahan.

Keempat, pekerjaan ngoyos atau menyiangi lahan dari rumput-rumputan yang tumbuh di sekitar tanaman ketika menunggu masa panen selama 3-4 bulan kemudian. Pada awalnya, pahuma hanya menggunakan tangan saja ketika menyiangi rumput, namun setelah ada perkembangan alat berupa cangkul dan kored (cangkul kecil), maka pahuma menggunakan alat dalam ngaseuk dan ngoyos.

Kelima, masa panen. Pekerjaan panen biasanya dilakukan oleh para wanita secara gotong royong, sedangkan lelaki bertugas mengangkut hasil panen ke rumah masing-masing. Areal huma dalam masyarakat tradisional Sunda biasanya diolah selama satu hingga tiga tahun. Setelah itu ladang dibiarkan menjadi hutan kembali. Dalam proses menghutankan ladang, terdapat beberapa istilah, yaitu reuma dan leuweung. Reuma adalah tanah huma yang dibiarkan beberapa lama dan sudah ditumbuhi dengan semak belukar, sedangkan huma yang telah kembali menjadi hutan yang penuh dengan proses penanaman pepohonan disebut sebagai leuweung.

Pembukaan huma baru biasanya memerlukan waktu selama satu tahun setelah leuweung menjadi areal yang lebih subur. Proses tenggat waktu tersebut biasanya disebut dengan ngajmi, sedangkan proses pembukaan reuma menjadi huma biasanya disebut dengan ngareuma.  Pada abad ke 17 hingga 18, terjadi perubahan drastis dalam sistem pertanian masyarakat Jawa Barat dari pola berladang menjadi sistem pertanian sawah.

Hal ini dipengaruhi oleh faktor masuknya pengaruh budaya Jawa (Mataram) ke daerah Priangan yang sejalan dengan pengaruh politih Mataram di daerah Galuh pada abad ke 16 dan di daerah Priangan di luar Galuh pada abad ke 17. Masuknya orang Mataram ke daerah Priangan membawa pergeseran budaya sawah ke areal ngahuma. VOC yang berangsur-angsur mulai menguasai wilayah Jawa Barat juga memerintahkan penanaman komoditas kopi untuk diekspor, sehingga mengubah pola hidup masyarakat ngahuma. Sejak saat itu, pola pertanian ngahuma mulai ditinggalkan dengan pengaruh berkurangnya kesuburan tanah karena sistem pengelolaan huma yang kurang tepat.

Kurang mendalamnya penurunan pengetahuan tentang ngahuma yang baik dan benar menyebabkan kini terjadi cara pengolahan tanah yang kurang baik atau terlalu cepat dalam mengolah lahan kembali hingga menyebabkan menurunnya kondisi ekologis lahan. Areal huma yang gagal kemudian digunakan untuk program penghijauan (reboisasi) dan bahkan juga berubah fungsi menjadi areal pemukiman baru.

Di daerah Jawa Barat bagian selatan, pola pertanian ngahuma bergeser ke arah pola pertanian tumpang sari. Sistem pertanian yang disebut terakhir adalah bentuk pertanian yang dikerjakan masyarakat di atas tanah milik kehutanan yang sedang direboisasi. Sistem pertanian tumpang sari berlangsung pula di daerah Bandung Utara, Cianjur, dan daerah Sukabumi Selatan. Di daerah Garut, sistem pertanian tersebut dikenal dengan istilah “ngultur” yang kemungkinan besar berasal dari istilah “kultuur stelsel”.

Setiap orang yang mengolah tanah kehutanan dengan sistem tumpang sari diwajibkan untuk memelihara tanaman kayu yang baru tumbuh sampai menjadi besar. Bilamana pohon kayu telah besar, Departemen Kehutanan melarang melakukan tanaman tumpang sari. Para petani tumpang sari kemudian mencari tanah kehutanan lain untuk diolah.

Dengan demikian, pola pertanian tumpang sari pun merupakan sistem pertanian berpindah-pindah, tetapi perpindahan itu disesuaikan dengan rencana reboisasi Departemen Kehutanan. Kebijakan itu diambil oleh pemerinah agar tidak terjadi lagi penebangan hutan secara liar, sehingga ekosistem dan kelestarian lingkungan tetap terpelihara.

 

  1. B.   Budaya Ngahuma Pada Masyarakat Baduy

Di daerah Jawa Barat, pola pertanian ngahuma masih dapat dilihat di daerah Banten dan beberapa area Jawa Barat bagian selatan. Ciri-ciri dari pola kehidupan ngahuma yang dapat dilihat jelas pada masyarakat Baduy adalah bentuk rumah sederhana yang hanya terbuat dari struktur bambu dan kayu, beratap ijuk atau alang-alang, dengan struktur pengikat berupa ikatan tali bambu atau tali ijuk. Rumah sederhana ini biasanya merupakan tempat tinggal sementara ketika pahuma (peladang) sedang berladang di suatu lahan.

Pola pertanian tradisional masyarakat Baduy masyarakat Baduy yang masih mengikuti pola pertanian tradisional zaman Kerajaan Sunda (Pajajaran), telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah sejak kurang lebih 600 tahun yang lampau. Mereka membuka huma untuk ditanami padi selama 1 sampai 2 tahun, dan kemudian ketika hasil panen telah menurun akan meninggalkan huma tersebut dan membuka kembali huma baru dari bagian hutan alam yang mereka  peruntukkan bagi kepentingan tersebut. Huma yang ditinggalkan pada suatu saat akan diolah kembali dan  periode masa bera tersebut pada awalnya 7 sampai 10 tahun. Pertambahan penduduk dan wilayah Baduy yang semakin sempit ternyata menyebabkan dari tahun ke tahun masa bera ladang menjadi semakin pendek, yaitu 3 sampai 5 tahun dengan luas tanah yang digunakan untuk bertani dan luas tanah bera bervariasi dari tahun ke tahu.

Secara tradisional masyarakat Baduy membedakan enam jenis perladangan atau huma berdasarkan fungsi, pemilikan, dan proses mengerjakannya (Garna, 1993). Keenam huma tersebut adalah:

  1. Huma serang, yaitu ladang yang dianggap suci yang ada di wilayah Baduy dalam, yang hasilnya digunakan untuk kepentingan upacara adat.
  2. Huma puun, yaitu ladang khusus milik puun di Baduy dalam.
  3. Huma tangtu, ladang yang digarap warga Baduy dalam.
  4. Huma tuladan, ladang komunal di Baduy luar yang hasilnya untuk keperluan desa.
  5. Huma panamping, ladang warga masyarakat Baduy luar.
  6. Huma urang baduy, yaitu ladang di luar wilayah baduy yang dikerjakan orang Baduy luar dan hasilnya diambil untuk kepentingan keluarga masing-masing.

 

Kalender Pertanian Baduy

Masyarakat Baduy mempunyai jadwal pertanian yang tertentu setiap tahunnya dan didasarkan kepada kemunculan bintang tertentu dan letak matahari. Patokan bintang yang digunakan adalah bintang kidang  (Waluku atau rasi Orion) dan bintang Kartika atau bintang Gumarang. Dalam prakteknya bintang kidang lebih banyak dipakai karena lebih jelas terlihat (Permana, 2001). Kemunculan bintang kidang tersebut menandai dimulainya proses berladang karena masyarakat mulai bersiap-siap turun ke ladang dan mulai mengolah lahan pertanian.

Ungkapan Baduy menyebutkan: “Mun panonpoe geus dengek ngaler, lantaran jagad urang geus mimiti tiis, tah dimimitian ti wayah eta kakara urang nanggalkeun kidang, tanggal kidang mah laju turun kujang”. (Terjemahan: “Jika matahari telah condong ke utara, ketika bumi kita telah mulai dingin, mulai saat itu baru kita mengamati penanggalan dengan munculnya bintang kidang, waktu muncul bintang kidang kita mulai menggunakan alat pertanian (kujang)”.

Alat pertanian yang digunakan adalah alat sederhana, dan prinsip pengolahan lahan mereka adalah sesedikit mungkin mengganggu tanah. Mereka membuka huma dengan bedog atau parang panjang dan kujang

(parang pendek atau pisau), dan menanam benih padi dengan cara melubangi tanah dengan sepotong kayu. Pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak adalah terlarang.

Kalender sebagai penanda waktu pada masyarakat Baduy adalah kalender yang berpatokan pada perputaran bulan (komariah) yang terdiri dari 12 bulan. Menurut Narja, seorang penduduk kampung Cibeo, urutan bulan-bulan tersebut adalah sebagai berikut: Kapat, Kalima, Kanem, Katujuh, Kadalapan, Kasalapan, Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karo, Katiga. Urutan bulan tersebut juga mengikuti tahapan dalam

proses perladangan. Bulan Kasa, Karo, dan Katiga, yang merupakan bulan-bulan akhir masa berladang dan masa panen disebut pula masa Kawalu yang dipenuhi dengan berbagai upacara adat dan berbagai bentuk

larangan. Pada masa tersebut tamu atau pengunjung dari luar biasanya tidak diterima.

 

Tahap Pengolahan Ladang pada Masyarakat Baduy

Kegiatan pertanian padi tersebut merupakan bagian sakral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy, sehingga setiap kegiatan pada masing-masing tahapan dilakukan dengan upacara adat.

Tahapan pengolahan ladang (ngahuma) tersebut adalah sebagai berikut:

  1.  Narawas

Narawas adalah merintis, memilih lahan untuk dikerjakan menjadi huma pada tahun tersebut, oleh setiap kepala keluarga. Lahan yang dipilih untuk dijadikan huma biasanya berupa reuma (bekas huma yang diberakan cukup lama) ataupun hutan sekunder. Lahan yang dipilih oleh sebuah keluarga biasanya ditandai dengan cara meletakkan batu, batu asahan, ataupun menanam koneng (kunyit). Selama proses memilih lahan maka mereka mengikuti pantangan untuk tidak berbicara kasar, kentut, memakai baju yang bersih dan memakai ikat kepala.

  1. Nyacar

Nyacar berarti menebas rumput, semak belukar, dan pepohonan kecil yang tumbuh tanpa ditanam, serta memotong beberapa dahan pohon besar agar lahan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dan biasanya dilakukan pada bulan Kalima (bulan urutan kedua pada kalender Baduy).

  1. Nukuh

Nukuh berarti mengeringkan rerumputan atau dedaunan hasil tebangan pada proses sebelumnya (nyacar). Pada proses ini hasil tebangan dikeringkan secara alami dengan sinar matahari, dan setelah kering kemudian dikumpulkan menjadi onggokan untuk kemudian dibakar pada proses berikutnya Apabila pada lahan yang dijadikan huma terdapat pohon yang besar (tua usianya), maka penebangan tidak boleh dilakukan sembarangan, dan biasanya tidak dilakukan pada saat nyacar, melainkan menunggu sampai proses nukuh. Penebangan diawali dengan upacara adat (pembacaan mantera dan pemberian sesaji) yang dilakukan oleh puun dengan maksud agar makhluk halus penghuni pohon tersebut tidak marah karena tempatnya diganggu manusia.

  1. Ngaduruk

Ngaduruk atau ngahuru adalah proses membakar sisa daun dan ranting pepohonan yang dibersihkan pada saat nyacar dan dikumpulkan pada saat nukuh. Saat ngaduruk juga berpatokan dengan kehadiran bintang kidang. Dalam istilah mereka : “kidang ngarangsang kudu ngahuru”, yaitu pada saat bintang kidang bercahaya terang waktu subuh, yang umumnya terjadi pada tanggal ke 18 bulan katujuh, adalah waktu yang tepat untuk membakar. Selama pembakaran yang dilakukan untuk setiap onggokan, api selalu dijaga agar tak merambat dan menimbulkan kebakaran hutan. Setelah selesai membakar, maka mereka akan selalu memastikan bahwa api telah benar-benar mati sebelum meninggalkan huma. Abu bekas pembakaran dibiarkan di ladang sebagai pupuk sambil menunggu hujan tiba.

 

  1. Nyoo Binih

Tahap penanaman dan pemeliharaan huma diawali dengan kegiatan nyoo binih, ngaseuk, ngirab sawan, dan ngored. Awal penanaman sesuai dengan datangnya musim hujan dan berpatokan pada posisi bintang kidang. Pertanda awal mulai penanaman adalah apabila bintang kidang mencapai titik zenith atau titik puncak pada waktu subuh, yang diistilahkan sebagai kidang muhunan. Nyoo binih adalah kegiatan mempersiapkan benih yang dilakukan 1 hari sebelum penanaman atau ngaseuk. Kegiatan tersebut dimulai dengan menurunkan benih padi dari lumbung, yang dilakukan oleh para wanita. Pelaku harus mengenakan selendang putih, sabuk putih, dan rambutnya disanggul, dan melakukan kegiatan tersebut dengan suasana hening dan khidmad, tanpa bercakap-cakap, dan dengan mengucapkan mantra tertentu.

Kegiatan menurunkan benih dari lumbung, yang dipimpin oleh istri girang seurat, dimaknai sebagai membangunkan Nyi Pohaci, yaitu dewi pelindung pertanian dari tidurnya. Setelah menurunkan padi maka padi tersebut diletakkan di tempat yang lapang untuk diinjak-injak dengan telapak kaki di atas tampah agar butir-butirnya terlepas dari tangkai padi, kemudian benih tersebut disimpan di dalam bakul. Pada malam hari salah satu dari bakul tersebut, yang secara simbolis mewakili bakul-bakul lainnya dibawa ke tengah lapangan untuk diberi mantra oleh para tetua kampung (baris kolot) diiringi serombongan pemain angklung yang semuanya pria dan disaksikan oleh seluruh warga. Benih pada bakul tersebut biasanya kemudian ditaman di huma serang yang merupakan huma komunal masyarakat Baduy.

  1. Ngaseuk

Kata ngaseuk berarti menugal atau menanam dengan tugal, yaitu dengan cara membuat lubang kecil dengan sepotong kayu atau bambu yang diruncingkan ujungnya, dan menanam benih padi ke dalamnya. Kegiatan penugalan tersebut dilakukan para pria dewasa, dan penanamannya dibantu oleh anggota keluarga lainnya.

  1. Ngirab Sawan

Arti ngirab sawan secara harafiah adalah membuang sampah atau penyakit. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pembersihan ranting dan daun atau tanaman lain (gulma) yang mengganggu pertumbuhan padi. Kegiatan lain yang berhubungan dengan ngirab sawan adalah ‘pengobatan’ padi, yang dilakukan dengan cara berpantun atau membacakan pantun, dan menebarkan ramuan ‘obat padi’. Ramuan tersebut terdiri dari campuran daun mengkudu (Morinda citrifolia), jeruk nipis, beuti lajo, karuhang, gembol, areuy beureum, hanjuang, dan kelapa muda. Semua bahan tersebut ditumbuk halus, dicampurkan dengan abu dapur, dan disebarkan ke seluruh lahan. Pengobatan tersebut adalah tindakan pemupukan tanaman, dan dilakukan sebanyak 10 kali selama pertumbuhan padi.

  1. Ngored dan Meuting

Ngored adalah membersihkan atau menyiangi rumput dan gulma lain yang timbuh di antara tanaman padi, 2 sampai 4 kali setiap bulan selama pertumbuhan padi. Adapun meuting adalah kegiatan menginap di saung huma atau gubug yang dibangun di huma dengan jangka waktu tertentu dalam rangka mengurus dan memelihara tanaman.

  1. Mipit

Mipit adalah kegiatan panen padi yang pertama kali dalam suatu musim, dan dilakukan di huma serang. Pemetikan padi secara simbolis yang pertama tersebut dilakukan oleh istri dari girang seurat. Padi kemudian diikat dengan tali kulit pohon teureup pada bagian tangkainya menjadi satu ikatan. Ikatan padi kemudian dikumpulkan di saung huma serang, dan setelah kering kemudian dibawa ke kampung untuk disimpan di leuit atau lumbung padi huma serang. Setelah panen di huma serang selesai, kemudian dilanjutkan dengan panen di huma puun, kemudian dilanjutkan dengan panen di huma tangtu, dan akhirnya di huma tuladan dan huma panamping.

  1. Dibuat

Istilah dibuat dalam pertanian Baduy adalah memotong atau memanen padi dengan mempergunakan etem atau ani-ani, yang biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Pelaksanaannya adalah setelah upacara mipit dan harus dilakukan segera. Apabila terlambat maka hama walang sangit (kungkang) akan muncul. Kegiatan tersebut dilakukan oleh seluruh keluarga, dan selama kegiatan tersebut sampai dengan padi menjadi kering dijemur, seluruh anggota keluarga menginap di huma.

  1. Ngunjal

Ngunjal adalah mengangkut hasil panen padi dari huma ke kampung untuk kemudian disimpan dalam leuit atau lumbung. Padi yang telah beberapa hari dikeringkan atau dilantay, disimpan dengan cara menumpuk secara teratur (dielep). Sebelum diangkut ke kampung, tali pengikat padi diganti dengan tali baru. Pengangkutan hasil padi dilakukan secara bertahap oleh seluruh keluarga. Para pria mengangkutnya dengan cara mengikat padi menjadi dua ikatan besar dan kemudian dipikul dengan menggunakan bambu, sedangkan para wanita membawa padi dengan cara menggendong dengan menggunakan kain.

  1. Nganyaran

Nganyaran adalah kegiatan upacara memakan atau mencicipi nasi baru, atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Upacara nganyaran dimulai dengan mengambil 5 ikat padi dari leuit huma serang. Padi tersebut kemudian dibawa ke saung lisung, yaitu tempat menumbuk padi yang digunakan secara komunal, untuk ditumbuk oleh 5 orang wanita, yaitu para istri dari puun, girang seurat, jaro tangtu, baresan, dan bekas puun. Alu penumbuk padi sebelumnya diusap dengan ludah masing-masing penumbuknya. Beras hasil tumbukan disimpan dalam bakul tempat nasi dan ditutup dengan kain putih yang diberi wewangian, dibawa ke rumah girang seurat untuk dibuat nasi tumpeng. Keesokan harinya, nasi tumpeng yang telah siap dibawa ke rumah puun untuk diberi mantra dan doa, kemudian di alun-alun nasi tumpeng tersebut dibagi-bagikan kepada seluruh warga yang hadir. Sebelum pulang ke rumah masing-masing, warga mengambil beberapa bulir padi hasil panen dari huma serang yang disediakan di depan golodog bale. Jika padi masih banyak tersisa setelah diambil para warga, maka hal tersebut merupakan suatu pertanda bahwa hasil panen di seluruh wilayah Baduy akan berlimpah. Selanjutnya padi hasil pertanian mereka adalah terlarang untuk dijual atau diperdagangkan.

 

 

 

 

 

  1. C.  Nyawah

Dalam naskah carita Parahyangan, hanya dijumpai satu kata ‘sawah’ dalam rangkaian kalimat ‘sawah tampian dalem’, yang berarti ‘tempat dipusarakannya ratu dewata’. Selebihnya naskah tersebut hanya menceritakan kehidupan dan situasi masyarakat peladang. Dr. Kusnaka Adimihardja menjelaskan bahwa bentuk mata pencaharian masyarakat Sunda bermula dari kegiatan berladang atau ngahuma, baru kemudian bersawah.

Di beberapa tempat seperti Kampung Tonggoh, Baduy, kebiasaan bersawah dianggap sebagai suatu hal yang melanggar adat atau ‘pamali’ karena adanya tiga faktor. Pertama, tanah pertanian masyarakat Baduy berada di tanah perbukitan yang relatif jauh dari sumber air, sehingga akan sulit untuk dibuah sawah yang bersaluran  irigasi. Kedua, masyarakat Baduy percaya bahwa huma merupakan cara terbaik untuk merasakan manfaat ekosistem. Itulah sebabnya huma di daerah Baduy ditanami juga dengan beberapa jenis tanaman keras seperti kelapa dan tanaman buah-buahan sehingga tanah tetap terlindungi lapisan suburnya oleh daya ikat yang ada pada akar tanaman keras. Ketiga, ada kepercayaan terhadap pengaruh kekuatan alam dan kekuatan gaib.

 

Tahapan Pengolahan Nyawah Di Masyarakat Sunda

Teknik nyawah yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan tebar  sampai dibuat.

  1. Persemaian

Cara membuat persemaian di masyarakat sunda

  • Tanah dibersihkan dari rumput  sisa -sisa jarami(jerami) yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan binih (bibit),
  •  Tanah dibajak atau dipacul (dicangkul),
  • ngagaru (tanah digaru),
  • Tebar yaitu penaburan benih dan,
  • Babut (pencabutan bibit).

 

  1. Persiapan Pengolahan dan Penanamam
  • Magawe  (membajak sawah)
  • Macul (nyangkul)
  • Ngagaru (menggaru)
  • Tandur (menanam benih padi)
  • Ngagemuk (mupuk)
  • Ngarambet (membersihkan rumput yang ada disekitar sawah)
  • Dibuat (panen)

 

  1. D.  Upacara yang terkait dengan pertanian

Orang Sunda awalnya dikenal sebagai orang yang hidup nomaden atau
berpindah-pindah. Itu sebabnya sebagian besar dari mereka bertani dengan cara
berhuma. Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis, kehidupan bersawah dikenal sejak tahun 1828 saat Sultan Agung dari Kerajaan Mataram memerintahkan pasukannya menyerang Batavia. Untuk persediaan logistik, mereka membuka sawah di daerah Karawang. Sebelumnya, pada tahun 1820 Sunda sudah menyerah kepada Mataram.

Persawahan juga diperkenalkan orang Jawa pada sekitar tahun 1800-an di wilayah Serang, Banten. Serang sendiri berarti sawah. Sejak masih berhuma, masyarakat Sunda sudah memiliki berbagai upacara yang terkait dengan pertanian. Upacara dilakukan untuk menghormati alam yang telah mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Khusus untuk padi, sebagai bahan makanan pokok, orang Sunda menghormatinya dengan nama Nyi Pohaci atau Dewi Sri.

Petani Sunda menganggap Dewi Sri sebagai makhluk bernyawa seperti manusia sehingga amat dihormati dan diperlakukan agar ia tidak marah, tidak berpenyakit, dan perlu dininabobokan agar menghasilkan padi danbibit yang berkualitas.

Menurut Nanu, begitu hormat dan besarnya harapan para petani agar kualitas padiyang dihasilkan baik dan masyarakat di desanya tak kelaparan karena gagal panen, petani di berbagai daerah di Priangan memiliki berbagai upacara, mulai dari mau menanam padi hingga memanen dan memasukkan padi ke lumbung.

Upacara ini tidak hanya dikenal oleh orang Sunda yang sudah bersawah, tetapi dikenal juga oleh orang Sunda yang berhuma. Bahkan, petani di berbagai daerah merayakan upacara persiapan air sawah hingga panen mirip dengan upacara dalam rangkaian berhuma yang dimiliki orang Baduy. Petani tak melakukan.

Meskipun upacara untuk padi di berbagai daerah memiliki banyak kemiripan, dari upacara-upacara tersebut terdapat berbagai variasi sesuai dengan keyakinan di daerah tersebut. Misalnya, di daerah Bogor pada upacara membawa padi dari sawah ke bale (balaidesa) yang dikenal dengan ngarengkong atau memikul ikatan padi menggunakan sebatang kayu, rengkong atau alat pemikulnya dihiasi ornamen Dewa Krisna sebagai pemelihara. Ornamen ini tidak dimiliki daerah lain.

Saat ini kultur pertanian memang mengendur di Tatar Sunda. Banyak petani tak lagi melakukan upacara karena sistem pertaniannya pun sudah berubah. Di masa lalu, petani menanam padi dari bibit di lumbung mereka.

Biasanya bibit padi adalah bibit unggulan dari hasil tani tahun lalu. Padahal, dahulu untuk mengambil dan memilih padi unggul saja ada upacaranya. Sekarang petani lebih banyak membeli benih di pasar. Dulu petani menanam padi berusia enam bulan. Upacara menanam hingga memanen dihitung dengan patokan masa tanam berdasarkan kalender Sunda yang dipercaya masyarakat. Kini dengan bibit yang berbeda, masa tanam pun berubah.

Akibat begitu kentalnya kultur pertanian di masa lalu, berbagai aspek kehidupan ikut terpengaruh. Setidaknya simbol-simbol pertanian juga menjadi simbol kehidupan. Misalnya, pada saat proses pernikahan, alu (penumbuk padi) dijadikan simbol yang melambangkan laki-laki, dan lesung (wadah dari kayu dengan lubang untuk menumbuk padi) menjadi simbol perempuan.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

 

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ngahuma (berladang) merupakan suatu tahapan dalam evolusi budaya manusia, dari berburu dan meramu ke budaya bercocok tanam dengan sifat menyebarkan penduduk (berpindah-pindah). Ngahuma merupakan suatu sistem/pola pertanian di mana hutan alam diubah menjadi hutan yang dapat menghaslkan kebutuhan pangan bagi manusia secara direncanakan yang berlangsung secara perputaran.

Dilihat dari sehingga ekologi, ciri yang paling positif dari ngahuma ialah bahwa sistem pertanian itu lebih berintegrasi ke dalam struktur umum dari ekosistem alami yang sudah ada sebelum sistem pertanian itu direncanakan. Ngahuma (berladang) dikenal sejak manusia memahami proses alamiah tumbuh-nya tanaman. Masyarakat Jawa Barat, khususnya masyarakat pedalaman (masyarakat Sunda) telah mengenal pertanian di huma sejak beberapa abad yang lalu. Dengan kata lain, masyarakat Sunda di Jawa Barat semula adalah masyarakat peladang.

Dalam perjalanan sejarah Jawa Barat, budaya ngahuma berangsurangsur lenyap, kecuali pada masyarakat yang tetap berbudaya tradisional, seperti masyarakat Baduy. Lenyapnya budaya ngahuma terjadi akibat perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial, sejalan dengan perkembangan
pengetahun dan teknologi peranian khususnya dan kemajuan jaman pada umumnya.
 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.opensubscriber.com/message/urangsunda@yahoogroups.com/11975247.html

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/09/Jabar/22784.htm
http://syiar-islam.web.id/?p=648

http://perpushalwany.blogspot.com/2009/07/bertani-adat-leluhur-baduy.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Padi

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: